Sehari Bersama “TIKUS” Bengkulu

INDONESIASATU.CO.ID:

Pembaca yang budiman mudah-mudahan tidak berprasangka macam-macam dulu terkait judul di atas, “Tikus” Bengkulu yang dimaksud adalah Pulau Tikus di Bengkulu, yang memang kata agen perjalanan 3 Putra  Bengkulu, Pulau Tikus tersebut terlihat seperti tikus kalau dilihat dari atas. Pada edisi literasi triwulan IV tahun 2018 kali ini saya akan menceritakan perjalanan sehari di Pulau Tikus Bengkulu sebagai kisah pengalaman pribadi.

Pagi itu hari Minggu tanggal 21 Oktober 2018 sekitar pukul 8.30 WIB cuaca di Pantai Panjang Bengkulu terlihat begitu cerah dengan diselingi pemandangan deburan ombak yang landai dan sesekali terdengar burung-burung bersahutan memulai rutinitas pagi hari. Sebagai pendatang baru di Provinsi Bengkulu sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor KEP-39/PB/UP.9/2018 tanggal 16 Agustus 2018 Tentang Mutasi dan Pengangkatan Dalam Jabatan Pengawas Di Lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, momen hari libur Sabtu Minggu bagi bujang lokal adalah satu hal yang harus dikemas sedemikian rupa sehingga tidak menjadi bumerang di kampung orang.

Setelah pelantikan oleh Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Bengkulu Bapak Ismed Saputra pada hari Senin tanggal 1 Oktober 2018, agenda pertama pada Sabtu Minggu pertama Bulan Oktober 2018 di Bengkulu saya sudah mengunjungi beberapa spot wisata di Bengkulu dan sekitarnya, diantaranya Pantai Panjang, Benteng Marlborough, Rumah Pengasingan Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno, Rumah Ibu Fatmawaty, kuliner asli Bengkulu, Danau Dendam, berkeliling di dalam kota Bengkulu dan sekitarnya serta tidak lupa mengunjungi sentral oleh-oleh khas Bengkulu.

Destinasi  berikutnya adalah wisata bahari yaitu berkunjung ke Pulau Tikus, ini yang membuat saya penasaran. Satu minggu sebelum tanggal 21 Oktober 2018 kami sudah melakukan survei ke beberapa agen perjalanan yang menawarkan paket wisata ke Pulau Tikus. Tiga Putra Bengkulu adalah agen perjalanan yang kami pilih untuk mengantarkan wisata bahari ke Pulau Tikus. Sehari sebelum perjalanan yaitu hari Sabtu tanggal 20 Oktober 2018 kami melunasi biaya paket perjalanan ke Pulau Tikus dan diperoleh informasi sekitar 40 orang yang akan bergabung dalam wisata bahari kali ini.

Kami berdua bersama Bapak Arwin datang tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditetapkan yaitu pukul 8.30 WIB, setelah memarkir kendaraan di tempat penitipan, kami langsung melakukan chek in di loket pembayaran dengan mengisi data diri pribadi untuk keperluan keselamatan dan asuransi, serta melakukan pengecekan peralatan keselamatan berupa pelampung yang akan digunakan selama perjalanan menggunakan perahu motor menuju dan pulang dari Pulau Tikus.

Pada hari pelaksanaan wisata bahari tersebut, peserta yang terdaftar pada one day traveler di Pulau Tikus tercatat genap sebanyak 40 orang, beragam asal peserta yang mengikuti perjalanan kali ini, antara lain dari Lampung, Bengkulu, Bogor, dan ada juga bule dari Cekoslovakia sebanyak 4 orang. Agen perjalanan menawarkan tiga (3) paket perjalanan one day fun one day happy ini, yaitu:

  1. Paket Pertama dengan biaya Rp.170.000,-,
  2. Paket Kedua berbiaya Rp.200.000,-dengan tambahan snack dan makan siang, dan
  3. Paket Ketiga berbiaya Rp.300.000,- dengan tambahan snack, makan siang dan BBQ.

Perjalanan ke Pulau Tikus ditempuh kurang lebih selama 30-40 menit dengan menggunakan perahu motor yang menurut kru nakhoda jarak Pulau Tikus dari pisisir pantai barat Bengkulu sekitar 10 mil laut. Ada sekitar 5 awak perahu yang membantu nakhoda mengemudikan jalannya perahu motor dan sekaligus menjadi guide dalam perjalanan ke Pulau Tikus. Pulau Tikus terletak di pesisir pantai Bengkulu menuju arah lautan Hindia, untuk menghindari terjangan ombak yang besar, nakhoda memilih perjalanan di pinggir pesisir pantai. Sesekali hembusan angin menghantarkan deburan ombak menyiram kami yang kebetulan duduk di atas perahu motor, basah juga  badan ini tapi kami senang melewati perjalanan menuju Pulau Tikus dengan pemandangan lambaian gelombang yang menari-nari turun naik tersapu oleh kencangnya angin yang berhembus, sebagian penumpang lainnya berada di bawah kemudi nakhoda untuk menjaga kestabilan posisi perahu motor kata Sang Nakhoda.

Pemandangan laut lepas Hindia yang seakan-akan tak berujung mengingatkan saya akan kebesaran Allah swt pencipta alam semesta dan betapa kecilnya seorang Mohamad Aziz bahkan tidak berarti sama sekali dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Selepas perjalanan telah melewati 15 menit, di depan mata sudah nampak terlihat Pulau Tikus, jangkar bekas peninggalan jaman Belanda, pelabuhan Pulau Bay dan kapal-kapal nelayan tradisonal yang sedang menangkap ikan juga tak luput kami amati.

Tepat pukul 10.00 WIB kami mendarat di Pulau Tikus, semua penumpang bergegas turun dari perahu motor dengan membawa peralatan, bekal akomodasi masing-masing dan bahkan ada peserta yang membawa drone untuk mengabadikan pemandangan Pulau Tikus . Panitia lokal telah menyiapkan toilet, mushola, meja, kursi dan welcome drink berupa teh, kopi dan air mineral. Bagi peserta yang membayar dengan tarif Rp.200.000,- panitia telah menyediakan makanan kecil dan makan siang yang telah disiapkan sebelum keberangkatan ke Pulau Tikus karena memang di Pulau Tikus tidak ada Rumah Makan Padang, KFC maupun Warung Tegal. Peralatan snorkeling juga telah disiapkan oleh agen perjalanan berupa kaca mata untuk melihat pemandangan bawah laut dan sepatu  untuk menjaga kaki sekaligus menghindari terinjaknya bulu babi maupun terumbu karang. Setelah beristirahat sebentar, beberapa peserta dan juga bule dari ceko langsung terjun ke laut menggunakan sepatu dan peralatan snorkeling yang telah disediakan agen perjalanan.

Saya sendiri dan Bapak Arwin memilih duduk-duduk di kursi plastik menikmati indahnya laut Hindia dan berjalan-jalan di sekeliling Pulau Tikus. Secara administrasi pengelolaan Pulau Tikus berada pada Distrik Navigasi Tanjung Priok, hal ini terlihat pada papan identitas yang terpasang di tengah Pulau Tikus. Pada sekitar pinggiran Pulau Tikus ditanami pohon kelapa dan juga bibit pohon bakau sebagai penahan ombak dan mengurangi terjadinya abrasi, ada juga perahu nelayan tradisional yang memancing dan mencari ikan di sekitar Pulau Tikus.

Setelah sholat Dhuhur, saya dan Bapak Arwin melakukan snorkeling dengan ditemani kawan-kawan agen perjalanan sebagai guide dan peserta lainnya untuk mengunjungi spot-spot tertentu yang sudah disiapkan, sekaligus melakukan sesi dokumentasi berupa pemotretan di bawah laut. Ada tiga sesi pengambilan gambar yang dilakukan per group atau rombongan dengan menggunakan  under water camera, antara lain:

  1. Sesi pemotretan dengan pemandangan bawah air, terumbu karang dan ikan berwarna hijau kuning (mungkin sejenis ikan Blue Tangs atau Butterflyfish),
  2. Sesi pemotretan dengan pemandangan bawah air, terumbu karang dan jenis ikan clownfish  atau orang Bengkulu menyebutnya ikan nemo;
  3. Sesi pemotretan dengan pemandangan latar belakang Pulau Tikus.

Ikan nemo yang terlihat cantik sewaktu sesi pemotretan ini dikabarkan akan menjadi ikon Pulau Tikus Bengkulu seperti yang diberitakan oleh liputan 6 SCTV dikutip dari halaman di media sosial pada tanggal 18 April 2016 memberitakan: “Pemerintah Kota Bengkulu mengklaim menemukan ikan yang memiliki kemiripan dengan ikan Nemo dalam film kartun anak-anak tersebut. Bahkan Pemerintah Kota Bengkulu memiliki bukti otentiknya berupa foto-foto ikan nemo di sekitar perairan pulau tikus. Wakil Wali Kota Bengkulu Patriana Sosialinda saat berkunjung ke Pulau Tikus mengatakan ikan Nemo atau Ikan Badut akan dijadikan ikon pulau tikus untuk menarik minat para pelancong untuk datang ke Bengkulu. “Ini ada fotonya, kita jadikan ikon untuk menarik wisatawan kesini,” kata Patriana Sosialinda di Bengkulu, Minggu 17 April 2016”.

Satu hal yang menarik bagi saya pribadi adalah penggunaan alat snorkeling ini, karena baru pertama kali menggunakan kaca mata di bawah air sekaligus bernapas menggunakan mulut membutuhkan latihan selama hampir 1 (satu) jam. Alhamdulillah setelah bisa menggunakan snorkeling saya bisa melihat permukaan yang dangkal di bawah laut, ikan-ikan berkeliaran dengan beraneka warna dan jenis menghiasi pemandangan dengan alat snorkeling ini. Dengan keberhasilan menggunakan alat snorkeling tersebut saya lebih bersemangat menjelajahi pergerakan ikan maupun keindahan terumbu karang disekitar Pulau Tikus, tentunya dengan antusias dan kebahagian yang lebih setelah berhasil bernafas di dalam air menggunakan alat snorkeling. Pemandangan yang tersaji berupa terumbu karang yang beraneka bentuk tersebut, hati ini merasakan seakan menemukan sekeping surga di nusantara karena baru pertama kali merasakan sensasi snorkeling selama 48 tahun umurku mengarungi kehidupan fana ini dan tidak terasa badan ini mulai kedinginan karena kelamaan berada di bawah air. Arus laut juga mulai deras seiring tiupan angin yang mulai kencang menjelang sore hari dan saya tidak bisa melakukan perlawanan dengan arus yang mulai membawa saya ke tengah laut yang lebih dalam. Keputusan harus diambil dan tepat pukul 14.30 WIB saya dan Bapak Arwin mengakhiri perjalanan snorkeling kali ini untuk menjaga vitalitas tubuh yang mulai menggigil, maklum besok pagi hari Senin harus melaksanakan tugas kembali sebagai Aparatur Sipil Negara.

Setelah istirahat dan membersihkan diri, rombongan bersiap-siap kembali ke Bengkulu tepat pukul 15.15 WIB. Agen perjalanan memandu kami untuk kembali menuju perahu motor yang diparkir di tepi Pulau Tikus. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan wisata bahari dengan konsep one day fun one day happy di Pulau Tikus Bengkulu tersebut, dapat disampaikan beberapa masukan terkait pengelolaan Pulau Tikus, antara lain:

  1. Meningkatkan promosi wisata untuk mempopulerkan destinasi Pulau Tikus sebagai tujuan wisata bahari baik melalui media sosial, event-event promosi wisata maupun selebaran berupa plamfet, spanduk dan lain-lain dengan mengusung ikon Pulau Tikus yaitu ikan nemo seperti yang digagas oleh Wakil Wali Kota Bengkulu;
  2. Penyediaan infrastruktur di Pulau Tikus, misalnya dengan adanya penginapan, tempat kuliner maupun bandara terapung untuk meningkatkan kenyamanan dan memudahkan aksesbilitas ke Pulau Tikus;
  3. Perawatan dan pelestarian species di Pulau Tikus baik terumbu karang, ikan nemo maupun keberadaan Pulau Tikus itu sendiri dari ancaman abrasi.

 

Penulis,

Mohamad Aziz (Kepala Seksi Supervisi Teknis Aplikasi Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu)

Tulisan ini merupakan pandangan dan pendapat pribadi, tidak mewakili kebijakan institusi

  • Whatsapp

Berita Terkait

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita